


|
Home
Rock Opera : The Musical Rock Opera : An Artiste's Life About Rock Opera Story Cast Production Team Songs Gallery VCD |
CAST
RAFAAT HAMZAH, As MAT ROCK
Bio Coming Soon...
ZOUL
However, Zoul still persevered and in the year 2000, he emerged with his solo album “Alhamdullilah” under the label Hunters Records. The song “Apakah ini Kau Bawa Pulang” from that particular album was nominated for 3 categories, best local album, best local song and best local artist. during the Anugerah Planet Music 2001. Like M.Nasir, Zoul is particular in incorporating traditional elements in all of his music compositions; be it rock, pop or soul. He was the greatest contributor in his younger brother Zainal’s debut album which was released in mid 2004. The year 2005 will be another landmark year as Zoul will be releasing his new solo album “Sembrani” in January. The album was recorded in Kuala Lumpur, produced by M.Nasir’s company, Luncai Emas and will be distributed by Universal Music. Rock Opera is proud to present the song “Belerang Merah”, exclusively selected from Zoul’s new album to be the theme song for the concert. The song is fitting with the ambience of Rock Opera, which is to coalesce rock with traditional values. HANAFIE WARREN & THE UNWANTED
Currently, Hanafie is still active and has returned to sing with the band The Unwanted. The band has since retained their original keyboardist, Said Mohd Amin and is performing in a club at Katong Village. For Hanafie, the opportunity to perform with The Unwanted in Rock Opera is like a great acknowledgement for the local rock scene and for me, it’s like being given the world! “It has been far too long that local rock bands were left alone to fend for themselves. To me, it takes great courage to organise a rock concert, what more an unplugged one and supported by an orchestra which has never been presented before. I am touched because finally a rock artiste like me has been given the opportunity to perform in such a prestigious venue such as the Esplanade Concert Hall. LOVEHUNTERS
Lovehunters is a unique rock band as it originally features only 3 members; Saharudin Jalil on drums, Yazid Abu Bakar as bass guitarist and main singer and Moliano as lead guitarist.
Formed in 1984, Lovehunters captured the heart of the public with songs that featured progressive and intellectual lyrics contributed by composers and lyricists such as Ramli Sarip, Art Fazil and Mohd Khair Mohd Yassin. These included songs such as “Berpinda Minda”, “Melayu” and “Blues Untuk Rakyat”. However, it was mainly their love ballads that shot them to fame. “Ku Ukir Nama Mu” and “Sambutlah Kasih” were de rigueur songs that had to be sung in every concert they performed and Lovehunters never failed to please the crowd. Lovehunters also produced an English album under Pony Canyon. The song “Angel in the Night” featuring invited vocalist, Iskandar Ismail Jr won an award for the best local song in Mediacorp radio Perfect 10 Music Awards. It was also nominated for the best locally produced album, best local. To date, Lovehunters has produced 7 albums. They now have a new lead guitarist, Salahudin Mohamad, replacing Moliano who has since left to set up his own recording company Moluv Music. Lovehunters are excited to perform on February 5th and considers the rock cum traditional concept as a dream come true. “We are indeed excited because all this while, we could only dream to have an unplugged concert. Even though we will be sharing the stage with other rock musicians, we will perform our best as if Rock Opera is a sole Lovehunters concert,” said Saharudin on behalf of the band. NASH
Nash was not only an exceptional singer but a talented actor too. He has acted in over 300 television dramas and in 3 films including “Memori” alongside Fauziah Ahmad Daud and Jins Shamsudin. For the past decade, Nash has been busy fulfilling invitation to sing at exclusive gatherings as well as at functions organised by the Malaysian government agencies. Rock Opera will be Nash’s first concert in Singapore since more than eight years ago. Nash on Rock Opera - “The idea of this concert is both good and unique. It was always my dream to sing rock songs accompanied by an orchestra. If possible, I would like this concert to be my own. Thank you to the organisers for choosing me. I hope it will be a success and also the moment I have been waiting to make a comeback in the music scene.” Currently, Nash runs his own events management company but is still actively singing. He plans to produce a new album in 2005. SUPPORTING CAST
JAMAICA CAFE
12 tahun Perjalanan panjang Jamaica Cafe merupakan cermin perpaduan antara komitmen dn konsistensi dari sebuah pilihan yang diambil sebagai bagian penting dari perjalanan karir Jamaica Cafe. Berawal dari sebuah kantin SMA di bilangan Jakarta Selatan bernama Gonzaga, sebuah kantin yang sangat berarti buat Jamaica Cafe, selain tempat untuk berkumpul pada saat tidak ada kegiatan di kelas, kantin juga merupakan tempat berbagi informasi "gaul" dan menumpahkan kreatifitas "iseng"Gitar Bolong Hilang! Setelah ngobrol kesana- kemari, ada saja sebahagian orang yang iseng untuk bernyanyi dengan diiringi gitar bolong pinjaman yang tidak jelas milik siapa waktu itu. Sampai suatu saat gitar bolong itu hilang tidak jelas kemana, mungkin diambil kembali oleh yang punya. Tapi!!! Acara nyanyi-nyanyi tidak boleh terhenti, acara itu harus jalan terus, paling tidak untuk menghibur diri sendiri. Tugaspun dibagi rata, ada yang mengiringi sebagai rhythm dan adapula yang mengiringi sebagai harmoni. Wahh... enak juga nyanyi rame-rame tapi 'gak perlu alat musik, apalagi hanya membutuhkan "Mulut" dan "Nafas" sebagai media ekspresinya. Nama Jamaica Cafe Pada saat ayng bersamaan, tren musik tahun 1991 menyisipkan reggae sebagai salah satu genre musik yang sangat digandrungi anak muda saat itu, dan di kantin tersebut terdengarlah musik reggae dari senandung anak-anak nongkrong di kantin itu, yang kemudian mereka sebut sebagai "Cafe" (biar terdengar lebih keren) Acara tahunan di SMA Lab School merupakan awal dari penampilan anak-anak "Cafe" di panggung hiburan. Sebagai pengisi acara, mereka harus memiliki merk, hingga diambillah nama "Jamaica" yang me-representasikan 'tongkrongan' meski musik yang dibawakan tidak semuanya bernuansa reggae, ditambah dengan istillah tempat anak-anak kantin yang dirubah menjadi "CAfe", maka jadilah sebuah merk atau nama grup "Jamaica Cafe". Enak Juga Ya..?!! Melihat peluang untuk menjadikan profesi penyanyi sebagai salah satu pilihan, pada tahun 1996, mereka memutuskan untuk menjadikan Jamaica Cafe sebagai grup a-cappela professional. Bermodalkan kreatifitas dalam meng-atansemen lagu, kehadiran Jamaica Cafe memberikan penyegaran di panggung-panggung pertunjukan. Keinginan untuk mempelajari dan mengeksplorasi sesuatu yang baru membuat mereka tetap eksis sampai sekarang. NOER TRAJOE
Kelompok ini sudah lama berkumpul, 16 tahun dalam kegiatan musik tradisional Indonesia. Dimulai dari kota kecil Padang panjang di sumatera barat kemudian berpindah ke Jakarta. Meskipun liku-likunya penuh suka duka namun tetap bertahan dengan komitmen yang tinggi. Tampil dalam pentas musik atau mengiringi berbagai tarian di Indonesia maupun di mancanegara. Kemudian kreatifitas pun berkembang dalam mencari warna, gaya, dan karakter musik baru Indonesia. Khasanah musik tradisi dan etnik Indonesia menjadi akar yang kuat dalam karya-karya yang dilahirkan baru. Makanya kata contemphonic music yang berarti: suara musik kontemporer etnik, menjadi tepat untuk diberikan pada jenis musik yang dimainkan kelompok NOER TRAJOE. Apa arti Noer Trajoe?Ketika mas akecil bermain layang- layang, taliiteraju menjadi salah satu bagian yang penting. Karena teraju memberi arah yang baik bagi layang-layang. Kata itu diambil dan sedikit diubah menjadi TRAJOE (baca;tarju) dengan ejaan lama dimana huruf O dan E bersatu disebut U, agar kelompok inti terus memiliki teraju yang baik ke depan. Sedangkan NOER (baca;no er) pembacaan yang berbeda dari kata NUR yang berarti cahaya. Maka NOER TRAJOE dapat doartikan sebagai terbang berteraju ke cahaya masa depan. Dan nama inipun menjadi kata sepakat untuk menjadi nam kelompok musik dalam tahun 2004. Di pentas musik dunia. NOER TRAJOE telah berpentas di berbagai negara baik dalam pergelaran misi seni budaya Indonesia atau mengikuti berbagai festival seni. antara lain: Jepang, Jerman, Spanyol, Prancis, America Serikat, Kanada, Malaysia, dan Singapura. dan juga kegiatan di Indonesia pada Bintan Arts Festival, Zapineozapin, Semarak Zapin Serumpun, Pekan olah Raga Nasional, Erau Festival, Jak Art Festival dan lainnya. Tantangan Baru Kehadiran NOER TRAJOE pada Pentas Rock Opera di Singapura pada tahun ini merupakan tantangan yang kuat untuk menghadirkan gaya, warna, dan karakternya dalam dunia musik rock. |